Suatu pagi yang dingin, di lokasi TPA (Tempat pembuangan akhir) seekor Kucing kecil yang baru beberapa hari lahir meringkuk kedinginan dengan badan yang basah karena embun yang membasahi bumi. Semalam seseorang telah membuangnya disana. Mungkin karena dirumahnya sudah terlalu banyak Kucing, karena emang benci Kucing atau karena telah bangkrut jadi tidak bisa lagi memberi makan Kucing :)Si Kucing kecil kedinginan dan kelaparan, dia berkata “Emakkkk emakkkkk dimana kau makkk….. apa salahku hingga dia (si manusia) membuangku ke tempat ini……” rintihnya lagi. Si Kucing kecil seharusnya masih menyusu pada si emak Kucing tapi apa daya, semua tidak akan terjadi. “Aku tidak mau mati, aku akan mencari makan seadanya dan aku akan bertahan hidup!!!” kata si Kucing kecil lagi sambil berjalan ke gundukan sampah di dekatnya.”Walahhhhhh…..!!” teriaknya tertahan…. Ternyata gak ada lagi makanan sisa yang masih bisa di makan. Disana si Kucing kecil hanya menemukan plastik-plastik bekas minuman, kresek, ember bekas dan pokoknya yang kalo di emut gak enak. Kalopun ada sisa makanan, ya udah gak layak makan Kucing. Lha wong manusia aja harus tutup idung kalo lewat, masak Kucing kudu makan yang begituan… wah… no way kata si Kucing kecil. Daripada aku mati kena diare, aku kan gak punya duit buat beli oralit, apalagi obat paten. Lha wong obat generik yang kata manusia di subsidi pemerintah aja harganya mahal gak terbeli, batin si Kucing itu lagi…. Oalah manusia…manusia katanya sembari menggigit tulang ikan yang udah 1 hari di sana dan mulai membusuk, tapi masih mending daripada tulang yang laen yang lebih busuk.
Setelah cukup di puas puasin acara jilat tulang, si Kucing berpikir “Aku tidak boleh mati, aku harus hidup. Kalaupun aku mati aku akan mati terhormat, tidak cengeng, mati setelah berusaha, dan mati karena udah mentok.” Selesai dengan ruwetnya pikiran si Kucing, dia pergi dengan semlohai.. walah apa ya kata yang tepat buat semlohai.. he he he pokoknya itu lah… semlohai…..Setelah melewati jalan raya di depannya yang gak tahu namanya (maklum Kucing belom bisa baca tulis, karena masih bayi dan belom sekolah.. lha wong manusia yang di sekolahin BoNyok nya aja pada cabut) dia belok kanan masuk gang kecil ada perempatan belok kiri. Padahal si Kucing nih gak tahu mo kemana.. yaaa sok tahu aja… namanya juga Kucing, orang manusia aja juga sok tahu, sok jago, sok berkuasa… mumpung jadi Kucing pikirnya lagi….Lagi enak enaknya jalan si Kucing ketemu anjing berbadan kekar, mungkin kalo di dunia manusia kayak Ade Ray yak…”Hayooooooooo mo lari kemana kauuuuuu kata si anjing kasar “. Si Kucing kecil takut luar biasa, orang manusia aja sama anjing takut apalagi si Kucing…. Badanya gemetaran, matanya melotot tapi nanar tapi si Kucing gak bisa lari lha wong tadi makan aja gak gablek, mana kuat dia lari. “A a a a a apa salah ku pak anjing” kata si Kucing lagi. “Kesalahanmu adalah, kamu anak dari BoNyok mu yang Kucing itu” kata si anjing sambil ketawa sadis. Ya maklum lah, namanya juga anjing… Bebas khan kalo mo ketawa ngakak gak beraturan….. “BoNyok mu udah nipu aku, dia nyolong roti daging. Setelah kupergoki, katanya aku mo dibagi dan setelah ku lepas, ternyata nipu…ngibul….dobol…. jan Asu tenan BoNyok mu kuwi” kata si anjing yang ternya asli dari Jawa berlagak misuh kayak manusia padahal gak ngerti artinya hi hi hi…. Si Kucing kecil sambil masih menggigil ketakutan dan semakin keras goyangannya berkata lagi “Loh i i i i i itu kahn BoNyok ku, aku gak ada hubungannya kan gak ada yang namanya dosa turunan”. “Ada…..!!!!” kata si anjing garang. “Di dunia hukum kalo Ortu utang dan terlanjur menghilang entah itu mati atau kabur, ahli warisnya yang bertanggung jawab. Dan BoNyok mu masih utang separoh roti daging padaku” kata si anjing tadi sok jadi penuntut umum dan sok pinter yang kayak di dunia manusia. “Tapi aku makan aja gak gablek, mana punya aku roti daging” kata Kucing sambil merintih kayak di sinetron sinetron. “Masa bodo, aku gak mau tahu. Bayar atau mati” kata si anjing sok preman. Ya maklum… dia khan anjing, jadi ya suka suka si anjing tadi toh…. “Ya… si bapak”, kata Kucing memelas.”Beri sedikit waktu, paling gak 1 sampai 2 minggu, pasti saya akan lunasi” kata si Kucing kecil lagi masih memelas kayak di sinetron manusia. “Jadi kau tak mo bayar sekarang, rasakan ini…!!!!” kata si anjing fitness tadi sambil menendang si Kucing pake tendangan berputar. Bukkkk!!!! tuinggggggggg si Kucing melambung tinggi. mungkin kalo diukur kurang satu kilan lagi kali si Kucing temangsang eh tersangkut di langit yang agak hitam. (Udahhhhh gak usah protes, suka suka aku yang cerita… he he he he). Tuinggggggggg bruk…!!!!!, si Kucing jatuh di pinggir hutan….semaut eh samaput alias pingsan.Pada waktu yang nyaris sama, kurang sitik ding….kurang sak upritt… ada seekor Macan si penguasa rimba (bukan Tarzan) sedang mencari anaknya. Ternyata anaknya hilang tak berbekas.. mak cling!!! ndak tahu ke mana. Udah lapor Hansip, Satpam, Polisi dari Polsek, Polres pokoknya komplit. Dicari di kali, dukun, Kiai pokoknya segala cara udah di tempuh termasuk Puasa Senin-Kamis masih aja gak ketemu.Pandangan si Macan sampai pada sosok Kucing yang lagi pingsan. Apa ini jawaban atas doaku selama ini yak… kata siMacan dalam hati. Ya udah, aku angkat aja si Kucing ini jadi anak angkatku dan menjadi Pangeran Pati, besok kalo aku udah tua akan menjadi penggantiku menjadi penguasa rimba, katanya lagi masih dalam hati.
Setelah di bawa ke istananya, di rawat oleh istri dan tabib istana, si Kucing sadar dan berangsur pulih. Makannya udah mulai banyak dan udah agak gemukan dikit. Si Macan senang dan bilang pada si Kancil sang penasehat. “Cil Kancil, kamu tolong carikan guru, tentor dosen atau rektor sekalian buat Pangeran Pati anakku. Aku ingin kelak Pangeran Pati menjadi penggantiku dan menjadi raja yang cerdas, baek dan bijaksana. Siapa kira kira rekomendasimu” Kata si Macan. “Daulat tuanku”, kata si Kancil takzim. “Bisa dipertimbangkan Entog yang rumahnya sebelah kali itu tuanku” kata si Kancil melanjutkan. “Kenapa si entog? Aku kira kau akan merekomendasikan si Kethek” kata Macan lagi. “Si kethek itu kahan punya gelar bejibun, ada Dr, Drs, Prof, Mba, BBa, MM dan beberapa sertifikasi dari Micocof Mendow, Cisgung de el el walah pokoknya boanyak banget.” kata Macan. “Ya enggak lah, si Kethek itu kan ijasahnya Aspal, sertifikasi juga buat dewe di percetakan trus buat di pamerin biar jadi wakil rakyat di dewan binatang. Bisanya cuman njiplak ide manusia aja” kata si Kancil nrocos sambil setengah misuh… “Dasar kethek!!!!” misuhnya lagi. “Ya udah, sekarang sana panggil si Entog dan suruh jadi guru Pangeran Pati . Ajarin apa saja, Sosiologi, Sexsologi, Sosial, Budaya, Fisika, Matematika, Kimia, Komputer… pokoknya semua lah…” Kata si Macan sambil pergi ke toilet.
Setelah berbulan-bulan belajar dengan si Entog, si Kucing menjadi cerdas. Buktinya ketika ditanya ayahnya si Macan dia bisa jawab semua. “1 + 1 berapa”, “dua” jawab Kucing cepat. “Ibu kota Indonesia mana”, “Jakarta” kata si Kucing lagi. “Hukum kekekalan energi…”, “E=Mc²” kata si Kucing cepat…. “Wak ka ka ka ka ka ka…” si Macan tertawa puas sambil mengelus kepala Kucing. Tapi walaupun si Kucing cerdas akal, dia tidak punya kecerdasan emosional atau apa tuh namanya ESQ ya kalo gak salah. Si Kucing jadi somse, dia gak mau disebut Kucing lagi. “Aku Pangeran Pati bin Macan Genggong” katanya pada setiap rakyat jelata di kerajaan bapaknya si Macan Genggong. “Siapa yang berani menyapa aku dengan sebutan Kucing, akan aku hukum berat” kata si Kuc eh si Pangeran Pati bin Genggong tadi.
Si Pangeran Pati yang congkak tadi benar benar jauh dari bijaksana, semena-mena, tukang korup kalo di suruh ngerjain proyek bapaknya dan banyak lagi yang menjadi perbincangan public.
Kancil yang bijak melihat hal ini dan berpikir negaranya akan hancur bila dipimpin oleh hewan semacam Pangeran Pati tadi. Dengan perasaan gak karuan dan hati-hati Kancil menghadap Macan Genggong sang Raja hutan. “Duh Paduka Raja Rimba, Ketiwasan paduka”, kata si Kancil hati hati. “What’s up Cil” kata sang Macan menirukan Rapper di dunia manusia yang kemaren ditonton di TV. “Beliau Pangeran Pati yang mulia, Pangeran Pati memang cerdas dan pintar, tapi beliau kok belum memiliki kecerdasan emosional yang biasa di sebut ESQ oleh manusia. Padahal Beliau Pati kelak akan menjadi Raja menggantikan Paduka yang bijaksana”. Maka diceritakanlah sepak terjang sang Pangeran Pati pada sang Macan Genggong dan si Macan sangat terkejut mendengarnya. “Belaikkk tenan, jan kebangetan si Pati…. ” Kata Macan menahan emosinya. Dia tidak menduga anak yang digadang-gadang akan menjadi penggantinya, disekolahkan agar menjadi pintar dan bijak ternyata hanya di depannya saja. Hancur luluh hati si Macan mendengarnya. “Lalu apa yang harus aku lakukan Cil” kata si Macan Genggong pada penasehat pribadinya itu.
Setelah perbincangan dan diskusi yang panjang, si Macan Genggong memanggil anak kesayangannya si Pangeran Pati. “Pangeran engkau tahu kalo aku sebentar lagi akan menyerahkan tahtaku padamu”. “Ya Ayahanda” kata si Pati takzim. “Aku punya syarat, pergilah kau ke mana kau suka untuk beberapa bulan. Tetapi lepas attributbut sebagai Pangeran Pati. Kau tidak boleh membawa si Celeng pengawalmu dan Jaran tungganganmu. Kau juga tidak boleh membawa satu pun barang dari istana ini, termasuk uang dan kartu kredit. Semua akan dilucuti. Setelah 5 tahun, kembalilah kemari. Sekarang pergilah” Kata si Macan dengan tegas dan berwibawa. “Ini adalah syarat menjadi seorang Raja di kerajaan ini” Kata si Macan lagi.
Tanpa sempat berkata apa-apa, Pangeran Pati segera di lucuti oleh anggota Paspamraj atau Pasukan Pengawal Raja dan dibawa keluar kerajaan. Pintu gerbang di tutup rapat dan para pengawal tidak diperbolehkan membukakan pintu manapun untuk Pangeran Pati.
Tak urung, kembalilah Pangeran Pati menjadi Kucing gelandangan yang tak punya arah tujuan. Setiap hewan di kerajaan bila memanggilnya dengan nama aslinya Cing Kucing atau semacam itu bila digertak dengan sebutan Pangeran Pati malah tertawa terbahak bahak. Contohnya waktu ketemu warung milik Ayam hutan, si Kucing yang lapar minta sepiring nasi dengan lauk lengkap. “Woi Ayam, kasi aku nasi satu piring dengan lauk dan sayur lengkap, cepetannnnn!!!!” kata si Kucing dengan angkuhnya. “Emang guwe bapak lo!!!” jawab si Ayam tak kalah ketus. “Sana pergi pengemis atau kupanggilkan Hansip tau rasa lo” kata si Ayam lagi. “Hai Ayam sialan, gak tahu apa kalo aku Pangeran Pati anak Rajamu Macan Genggong” kata si Kucing sambil menepuk dadanya. Sontak seluruh isi warung tertawa ngakak sampai ada yang keselek, tapi masih aja nekat tertawa. “Bah!! mana mungkin paduka Raja Macan Genggong punya anak Kucing buduk macam kau ni, tak mungkin itu….” kata seekor monyet yang kebetulan sedang ngopi menanggapi lelucon di depannya. Dengan perasaan malu, marah dan merasa tidak berdaya, Kucing berjalan pergi. Tidak hanya sekali Kucing menerima hinaan yang lebih parah lagi, malah banyak yang menantang berkelahi dan misuh-misuh, diludahin sampai kena bogem mentah juga dialami. Dari jauh sepasang mata terus mengawasi dengan mulut tersenyum penuh arti.
Lama kelamaan, si Kucing mulai menyadari. Untuk hidup dia perlu makan, untuk makan dia perlu berusaha, entah beli atau mengais. Untuk beli dia perlu uang dan untuk uang dia harus bekerja melakukan sesuatu. Pernah si Kucing jadi copet terpaksa karena lapar katanya, al hasil digebukin banyak binatang, diludahin dan banyak yang tidak berperikebinatangan. Untung dia berhasil lolos, lari dan menghilang di balik perumahan kumuh. Pernah juga jadi pengemis di pinggir trotoar, tapi dikejar rantib, setelah ketangkap diceramahin… “Dasar Kucing pemalas, masih muda jadi pengemis”. “Susah cari kerja sekarang Pak, walau aku pintar Fisika, Matematika, Computer de el el susah kalo gak ada channel”. Jawab si Kucing dengan memelas. “Kau pikir orang yang dipasar manggul beras itu lagi ngapain, kau pikir kambing tua peyot yang tiap pagi di perempatan menyapu sampah di jalan tuh sedang apa, kau pikir si tong-tong bangau penjual koran yang kakinya cacat kecelakaan tuh lagi ngapain di traffic light?, mereka cari duit buat makan cing, gak kayak kamu pemalas !!!!” kata Pak Sapi kepala Rantib galak.
Setelah di lepaskan, siKucing mulai berpikir.”Benar juga kata Pak Rantib tadi, aku harus cari kerja. Tapi apa ya… semua perlu modal”. Setelah berpikir beberapa lama, si Kucing ada ide. Dia mulai mengumpulkan ranting kering di sekitar hutan, itu khan gratis gak bayar dan gak modal iya tohhh??!! Lalu ranting tersebut setelah terkumpul banya, dia jual ke pemilik-pemilik warung sekitar sana. Lumayan juga hasilnya bisa untuk makan tanpa diludahin dan digebukin hewan lain. Sekali lagi pemilik sepasang mata yang mengawasinya dari tadi tersenyum penuh arti.
Sebagian hasil dari menjual ranting di tabung oleh Kucing dan kemudian dia investasikan dengan membeli koran pagi di agen beberapa lembar. Kini jadilah si Kucing tukang koran di perempatan. Hasilnya sedikit lebih banyak daripada menjual ranting kering. 2 koran, 3 koran, 5 koran, 10 koran dan kelamaan koran modal dagangnya semakin banyak dan pelangganya juga. Si Kucing sekarang menjadi loper koran di perumahan pinggir hutan. Tabungannya pun sedikit-demi sedikit mulai bertambah. Kini si Kucing bisa merasakan Pizza Hut-tan walaupun cuma porsi kecil dan itupun harus merelakan separoh tabungannya. Tak apa, sekali sekali katanya dalam hati. Sepasang mata menepuk jidatnya sendiri sambil ngomel, dasar Kucing….!!!
Tak terasa 5 tahun telah berlalu, si Kucing kembali ke istana dan menghadap sang Raja. “Tuanku Macan Genggong yang mulia, hamba Kucing menghadap kembali” kata si Kucing dengan halus dan hati-hati. Macan Genggong sebenarnya sangat rindu pada anak angkatnya itu, tapi sesuai saran Kancil penasehatnya, dia harus bersabar dan menahan perasaaanya.
“Apa yang kaudapat selama 5 tahun ini Kucing” kata Macan menggelegar. Semua pengawal dan menteri terdiam tidak berani menatap sang raja yang angker dan berwibawa. “Hamba masih hidup tuanku, dan hamba membawa sedikit uang hasil tabungan hamba selama 5 tahun ini hasil kerja hamba tuanku” kata Kucing sambil menyodorkan lembaran 1000-an kumal dan 5000-an nilai yang terbanyak. Berapa jumlahnya, kata Macan lagi. Seratus tigapuluh tujuh ribu tuanku. Kata si Kucing lagi.”Kemarikan uang itu” kata sang Macan Genggong. Bendahara, hitung uangnya, kata si Macan pada Monyet bendahara kerajaan. “Benar, ini berjumlah seratus tigapuluh tujuh ribu yang mulia” kata Monyet menyahut.
Diambilnya uang itu dan kemudian dibakarlah di depan Kucing. Si Kucing kaget setengah mati, sampai tenggorokannya kering, wajah pucat, kaki gemetar dan mata berkunang-kunang tapi belum sampai pingsan. “Tuankuuuuuuu jangan tuankuuuuuuuu tolong jangan dibakarrrrrrrrr itu hasil keringat saya selama 5 tahun ini….. jangan di bakar tuankuuuuuuuu” kata si Kucing sambil menggerung gerung. Si Kucing menagis sejadi-jadinya, uang hasil keringatnya dibakar begitu saja di depannya. Terbayang panasnya matahari yang membakar tubuh saat dia berada di perempatan jalan menjajakan koran, kakinya yang keseleo saat jatuh dari sepeda onthel karena bannya pecah, maklum sepeda bekas udah tua. “Dengan muka merah, mata merah, gigi merah karena tadi makan sambal dan masih ada lombok di giginya si Kucing berdiri. “Tuanku Macan Genggong, saya tidak terima, uang hasil jerih payah saya dibakar begitu aja”. Rupanya si Kucing sudah siap ber-Jibaku mempertahankan haknya. Melihat situasi yang gawat, para anggota Paspamraj mulai bersiap melindungi Boss-nya. Para snipper mulai kokang senjata, siap tunggu perintah.
“Tenang-tenang, Kucing… kau akan jadi Pangeran Pati lagi, kau akan menjadi raja menggantikanku apa kau ingat???” kata Macan Genggong. “Benar tuanku, tapi itu adalah hasil keringat saya selama 5 tahun. Itu adalah kerja keras saya membanting tulang, kepanasan, payah, capek, susah dan anda membakarnya begitu saja. Anda memang kaya, uang sejumlah itu sangat kecil dibanding kekayaanmu, tetapi itu berharga untuk saya” Kata si Kucing marah. Macan Genggong tersenyum menanggapi kemarahan anak angkatnya.
“Sebenarnya aku hanya mengujimu anak-ku, aku tahu apa yang kau lakukan selama 5 tahun ini. Uwakmu Kancil selalu melaporkannya berkala untukku” kata si Macan Genggong. Terkejutlah si Kucing mendengar pengakuan ayah angkatnya. Kali ini wajahnya memerah bukan karena marah, tetapi karena malu. Terbersit banyakknya kesalahan dalam beberapa waktu yang lalu, kesombongan dan kecongkakannya melampaui batas toleransi prikebinatangan. Maka menangis lah si Kucing tersedu sedu. “Saya tidak pantas menjadi Pangeran Pati tuanku, saya adalah masalah untuk negeri ini. Saya korupsi saat paduka memberikan proyek beberapa tahun lalu untuk saya awasi, saya sombong dan takabur terhadap binatang lain, saya semena mena pada binatang miskin” kata si Kucing di sela-sela tangisan pilunya.
Maka tersenyumlah Macan Genggong dan Kancil, mereka sangat puas karena usaha mereka menyadarkan Kucing telah berhasil. “Kau telah menyadari kesalahanmu, mau belajar dan memperbaikinya. Itu sudah cukup sebagai syarat menggantikanku menjadi Raja di kerajaan hutanku ini” kata si Macan. Maka hari itu, diangkatlah si Kucing kembali menjadi Pangeran Pati. Pangeran Pati yang baru memiliki sifat welas asih dan selalu hormat pada binatang lain. Peduli pada binatang lain dan senang membantu kaum lemah. Pangeran Pati banyak mendirikan rumah yatim piatu dan memberikan bantuan pada siapapun tanpa melihat status sosial. Membuka balai lapangan kerja sebagai tempat pelatihan kaum muda agar bisa berkarya. Kelak Kucing akan menjadi raja yang adil, bijaksana dan anti korupsi.
Image By. http://www.chrisspagani.com/cartoons/hammie-2s.jpg