Nightmare Semarang-Jakarta
Hari Jum’at akhirnya aku putuskan untuk ikut ke Jakarta. Aku yang pertama nyetir si Pepen panther andalanku untuk melaju ke Jakarta dengan beban 4 Orang dan barang bawaan yang sarat tetapi gak begitu berat untuk cabut ke Jakarta. Banyak rumor yang aku dengar tentang jalan Pantura yang menghubungkan Semarang-Jakarta. Jalanan yang jelek, banjir dan gelap udah terbaca di depan mata. Banyak skenario di kepalaku yang telah aku susun sedemikian rupa untuk menghindari jalanan dengan kondisi yang demikian. Pepen benar-benar aku persiapkan dengan baik.Jam 8.30 malam, Kami berangkat. Hujan rintik dan angin tak begitu kencang, malah waktu pulang yang kenceng. Dari lokasi Tugu Semarang jalanan memang udah sangat buruk. jalan terpecah dan hancur di sana sini. Tapi untunglah cuman 5-10 meter. Setelah melewati kendal, jalanan luarbiasa buruk. Lubang lebar dan dalam telah siap memakan roda mobilku. Wooooouuuuuu!!!!! Saya yakin, kecepatan rata-rata kami adalah 40-60 Km/Jam saja kurang lebihnya.
Lelah, bukan karena perjalanan yang panjang, tetapi lebih pada konsentrasi penuh pada jalanan yang gelap dan lubang yang dalam. 2 kali istirahat di Tegal tepatnya Pom Bensin yang terkenal bersih “Pom Bensin MURI” di jalan Jl. Mayjen Soetoyo,Tegal. Pom bensin “Gila” bersih dan lengkap, mana Baby support lagi… wah wah wahhhhh… WC nya, bersih dan wangi. cukup donasi 1000 rupiah aja…
Sampai depok jam 11.30 siang. Panas, capek, ngantuk…. ya istirahat lah….
Ternyata gak seburuk yang kami kira, Jalan Pantura Jakarta-Semarang masih lebih baik. Lubang jalan kisaran 30:100 dengan jalan kembaranya Semarang-Jakarta. Mobil bisa kami geber sampai 80 Km/Jam rata-rata dengan kondisi demikian, beda banget saat berangkat ke Jakarta.
Kami sempat mampir ke warung nasi Jamblang yang terkenal itu. Total aku dan adikku makan cuman 11.000 rupiah aja dengan komposisi Nasi 4 bungkus, telur dadar 2 biji, teh gratis, mendoan 3 biji, paru 1 biji plus pipis 2 kali… he he he mumpung ada toilet-nya…
Setelah mapir lagi di Pom bensin Muri sekitar 3/4 jam untuk istirahat, Sholat dan isi solar, kami berangkat lagi. Komdisi jalan tidak lebih baek dari sebelumnya. Dengan kondisi demikian, kami sampai di Ungaran jam 1.30 malam. Yah sudah, cuci kaki trus bobo…. besoknya kerja ama nulis blog… he he he
Benarkah Jalan Rusak Akibat Tonase Berlebih?
Menteri Pekerjaaan Umum Djoko Kirmanto yang menyulut sebuah pernyataan keras bahwa jalan nasional tidak akan pernah bagus jika beban muatan barang tak terkendali.Tudingan itu bukan tanpa alasan sebab Departemen Pekerjaan Umum sendiri sudah melakukan survei tahun lalu tentang penyebab kerusakan jalan di jalur Pantai Utara Jawa (Pantura) dan Jalur Lintas Timur Sumatera (Jalintim).
Hasilnya, ditemukan bahwa kelebihan muatan mengurangi umur ekonomis pemakaian jalan yakni untuk jalan Pantura umurnya tinggal 1,5 – 2 tahun dari yang seharusnya 10 tahun. Adapun jalan di Jalintim sudah rusak setelah empat tahun digunakan.
Dengan kondisi itu, hampir bisa dipastikan, kondisi kerusakan jalan, terutama jalan nasional di setiap propinsi di Indonesia bisa dikatakan hampir merata. Departemen Pekerjaan Umum memperkirakan diperlukan dana sedikitnya Rp10 triliun.
Contoh jalan rusak yang bisa dikemukakan, seperti disiarkan berkali-kali stasiun televisi swasta antara lain di jalur lintas timur Sumatera, Pantura Jawa Tengah dan Jawa Barat, Lampung dan daerah lainnya. Bahkan untuk di lintas Sumatera, dari total panjang 2.508 km, 1.400 km diantaranya rusak berat.
Masalah serupa terjadi di jalur Trans Sulawesi. Sebagian besar dari 850 km ruas jalan Trans Sulawesi rusak. Di ruas Mamuju-Pasangkayu, Sulawesi Barat, jalur sepanjang 280 km dipenuhi lumpur seperti kubangan kerbau.
Persoalannya kini, mengapa kerusakan jalan nasional sepertinya tidak pernah selesai setiap tahun? Betulkah, kerusakan itu karena hanya satu faktor tunggal seperti kelebihan muatan yang diijinkan (tonase)?
Dephub sebagai regulator awalnya bersikukuh, jika tonase langsung diturunkan menjadi nol persen dalam waktu dekat ini, maka dampaknya akan luar biasa.
Tanpa bermaksud melindungi praktik yang sudah menjadi rahasia selama ini, yakni hampir 90 persen kendaraan truk dan barang yang melintas di seluruh jalan nasional melanggar ketentuan dan lolos dari setiap jembatan timbang yang dilaluinya, Dephub tampaknya mencoba berpikir jernih dan konsisten dengan tahapan yang sudah disepakati dengan pihak terkait.
Dalam hal tonase, yang awalnya 90 persen, secara bertahap akan diturunkan menjadi nol persen pada akhir tahun depan. Saat ini, baru 60 persen.Namun, dengan “gertakan” dari Departemen Pekerjaan Umum tersebut, akhirnya dalam waktu kilat mengubah kebijakannya menjadi nol persen hingga akhir tahun ini yang dimulai dengan evaluasi pada Maret ini menjadi sekitar 50 persen.
Jadi dengan sabar mari kita lihat dan rasakan hasilnya akhir tahun nanti… Pisss!!